Telusuri Blog

Selamat Datang

Terima kasih, Anda telah berkenan berkunjung. Blog ini dibuat terutama untuk membantu mahasiswa mempelajari Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Bila Anda adalah mahasiswa semester ganjil tahun 2017/2018, silahkan mendaftar sebagai peserta kuliah dan memeriksa hasil mendaftar dengan mengklik tautan yang tersedia. Baca dengan seksama isi menu Smt. Ganjil 2017/2018 untuk mempersiapkan diri mengikuti kuliah. Bila Anda belum terbiasa menggunakan Internet, blog ini dibuat bukan untuk mempersulit Anda, melainkan untuk membantu Anda menjadi melek teknologi informasi, silahkan klik halaman Dukungan TI. Blog ini juga terbuka bagi siapa saja untuk berkunjung dan mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan pelindungan tanaman. Selamat menjelajah dan bergabung, mohon meluangkan waktu untuk membagikan melalui Google+, Facebook, Twitter atau lainnya dan menyampaikan komentar.

Navigasi Blog

Untuk memeriksa seluruh tulisan yang menjadi isi blog Dasar-dasar Perlindungan Tanaman, silahkan klik menu Daftar Isi. Bila Anda adalah peserta kuliah Semester Ganjil Tahun 2017/2018, Anda wajib membaca tulisan yang pada awal judulnya disertai angkai, mulai dari angka 1.1. dan seterusnya. Mahasiswa peserta kuliah Semester Genap Tahun 2017/2018 wajib menyampaikan komentar pada kotak komentar di bagian bawah tulisan. Komentar berisi uraian singkat mengenai apa yang Anda pahami dan/atau pertanyaan singkat mengenai yang belum dipahami. Halaman blog menyajikan hanya 5 tulisan termutakhir. Silahkan klik navigasi Posting Lama di bagian bawah tulisan blog untuk melihat tulisan lainnya.

Mendaftar sebagai Peserta Kuliah

Setiap mahasiswa peserta kuliah diwajibkan untuk mendaftar secara daring dengan mengisi formulir pendaftaran (klik untuk memulai). Silahkan lakukan login dengan menggunakan akun email sendiri sebelum mengisi formulir. Sesudah mengirimkan formulir pendaftaran, silahkan periksa hasil pendaftaran (klik untuk memeriksa). Pendaftaran ditutup pada Senin, 15 Maret 2018.

Senin, 03 September 2012

Apakah mempelajari Perlindungan Tanaman cukup hanya dengan mempelajari Organisme Pengganggu Tumbuhan?

Bahan ajar dan buku teks mengenai dasar-dasar perlindungan tanaman biasanya hanya membahas mengenai biologi berbagai jenis organisme pengganggu tumbuhan dan tindakan perlindungan tanaman yang diperlukan. Dengan demikian, perlindungan tanaman diperlakukan seakan-akan sekedar sebagai pengantar untuk mempelajari ilmu hama, ilmu penyakit tumbuhan, dan ilmu gulma. Dalam konteks sebagai pengantar, mempelajari dasar-dasar perlindungan tanaman sekedar sebagai persiapan untuk mempelajari ilmu hama, ilmu penyakit tumbuhan, dan ilmu gulma memang tidak salah. Namun sebagai matakuliah, mahasiswa yang mengambil matakuliah dasar-dasar perlindungan tanaman tidak selalu melanjutkan dengan mengambil matakuliah lanjutan tersebut di atas. Karena itu, matakuliah dasar-dasar perlindungan tanaman tidak dapat dipandang sebagai sekedar matakuliah pengantar. Dan karena itu pula, tidak cukup hanya dengan mempelajari biologi organisme pengganggu tumbuhan dan tindakan yang diperlukan untuk melindungi tanaman.


Permasalahan perlindungan tanaman sebenarnya bukan hanya berkaitan dengan biologi organisme pengganggu. Masalah belalang kembara (Locusta migratoria manilensis), misalnya, akan dapat diatasi bila masyarakat beralih dari menanam tanaman pangan dalam sistem tebas bakar menjadi menanam tanaman tahunan. Dengan demikian, pengendalian cukup difokuskan di areal persawahan dengan menggunakan biopestisida berbahan aktif mikroba Metharrhizium anisopliae. Tetapi masyarakat di Timor Barat dan sebagian besar Sumba memandang perladangan sebagai bagian dari tradisi. Di Timor Barat, orang yang tidak membuka ladang akan dipandang sebagai pemalas. Di Sumba, belalang kembara dipandang sebagai utusan dewa untuk menghukum mereka yang lalai memenuhi kewajiban adat. Permasalahan hama penggerek buah kakao di Pulau Flores juga tidak hanya berkaitan dengan biologi Conopomorpha cramerella, serangga yang larvanya merusak biji kakao. Rekomendasi pengendalian penggerek buah kakao dengan membungkus buas kakao muda dengan kantong plastik tidak mungkin dilaksanakan karena kakao di sana ditanam di lereng terjal dan pohonnya tidak pernah dipangkas. Masyarakat di sana tabu memangkas pohon kakao karena mereka percaya akan menyebabkan panen berkurang bila tidak didahului dengan upacara adat.

Permasalahan kemuduran jeruk keprok soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) juga tidak hanya sekedar permasalahan biologi organisme pengganggu. Pengalaman dari berbagai pusat produksi jeruk di Indonesia, dan bahkan di negara-negara produsen jeruk di dunia, menunjukkan bahwa CVPD (Citrus Veion Phloem Degeneration, di luar negeri disebut huanglongbing, disingkat HLB) merupakan penyakit jeruk yang sangat berbahaya. Sekali penyakit jeruk sudah masuk ke suatu pusat produksi jeruk atau ke suatu negara maka tanaman jeruk tidak akan dapat diselamatkan. Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah kedua kabupaten tersebut tentu sangat mengetahui hal ini. Hanya saja, kemudian, cara yang ditempuh oleh pemerintah provinsi dan kedua kabupaten ini berbeda dengan yang dilakukan oleh pemerintah di negara maju. Kalau di negara maju, pemerintah akan menghargai siapapun yang bersedia melaporkan adanya gejala penyakit berbahaya itu. Pemerintah di provinsi dan kedua kabupaten ini justeru sebaliknya, ketika dilapori bahwa hasil uji PCR (Polymerase Chain Reaction) telah menunjukkan bahwa jeruk di sana telah positif menderita CVPD, justeru menuduh bahwa penelitinya tidak berkompeten dan mengatakan uji PCR hanya valid bila dilakukan di laboratorium lembaga penelitian yang membidangi jeruk, bukan di laboratorium universitas.

Oleh karena alasan tersebut di atas, materi kuliah Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dalam blog ini mencakup bukan sekedar permasalahan biologi organisme pengganggu. Materi kuliah Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dalam blog ini bukan sekedar pengantar untuk mempelajari ilmu hama, ilmu penyakit tumbuhan, dan ilmu gulma. Penyusunan materi kuliah Dasar-dasar Perlindungan Tanaman dalam blog ini mengikuti benang merah yang dikemukakan Heagle (1973) bahwa "... the crop protection man must be broadly trained". Dengan begitu, belajar perlindungan tidak cukup hanya dengan membenamkan diri dalam mempelajari kerumitan interaksi berbagai jenis organisme dalam ekosistem dan karena itu melupakan bahwa interaksi antar manusia tidak kalah rumit, sebagaimana dikatakan oleh seorang guru besar ekologi manusia dari Rutgers University, Prof. A.P. Vayda. Pun belajar perlindungan tanaman tidak cukup dengan sekedar belajar mengenai paha dan antena belalang, seperti dikatakan secara bergurau oleh Prof. Fred Benu. Lebih-lebih dalam era desentralisasi dan otonomi daerah dewasa ini, tatakelola perlindungan tanaman telah menjadi isu yang begitu mendesak sebagaimana dalam kasus CVPD di atas.

1 komentar:

Untuk mengomentari tayangan ini, silahkan tulis dan poskan di bawah ini ...

Daftar Istilah

A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y,
Z, daftar istilah entomologi dari EartLife