Telusuri Blog

Selamat Datang

Terima kasih, Anda telah berkenan berkunjung. Blog ini dibuat terutama untuk membantu mahasiswa mempelajari Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Bila Anda adalah mahasiswa semester ganjil tahun 2017/2018, silahkan mendaftar sebagai peserta kuliah dan memeriksa hasil mendaftar dengan mengklik tautan yang tersedia. Baca dengan seksama isi menu Smt. Ganjil 2017/2018 untuk mempersiapkan diri mengikuti kuliah. Bila Anda belum terbiasa menggunakan Internet, blog ini dibuat bukan untuk mempersulit Anda, melainkan untuk membantu Anda menjadi melek teknologi informasi, silahkan klik halaman Dukungan TI. Blog ini juga terbuka bagi siapa saja untuk berkunjung dan mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan pelindungan tanaman. Selamat menjelajah dan bergabung, mohon meluangkan waktu untuk membagikan melalui Google+, Facebook, Twitter atau lainnya dan menyampaikan komentar.

Navigasi Blog

Untuk memeriksa seluruh tulisan yang menjadi isi blog Dasar-dasar Perlindungan Tanaman, silahkan klik menu Daftar Isi. Bila Anda adalah peserta kuliah Semester Ganjil Tahun 2017/2018, Anda wajib membaca tulisan yang pada awal judulnya disertai angkai, mulai dari angka 1.1. dan seterusnya. Mahasiswa peserta kuliah Semester Genap Tahun 2017/2018 wajib menyampaikan komentar pada kotak komentar di bagian bawah tulisan. Komentar berisi uraian singkat mengenai apa yang Anda pahami dan/atau pertanyaan singkat mengenai yang belum dipahami. Halaman blog menyajikan hanya 5 tulisan termutakhir. Silahkan klik navigasi Posting Lama di bagian bawah tulisan blog untuk melihat tulisan lainnya.

Mendaftar sebagai Peserta Kuliah

Setiap mahasiswa peserta kuliah diwajibkan untuk mendaftar secara daring dengan mengisi formulir pendaftaran (klik untuk memulai). Silahkan lakukan login dengan menggunakan akun email sendiri sebelum mengisi formulir. Sesudah mengirimkan formulir pendaftaran, silahkan periksa hasil pendaftaran (klik untuk memeriksa). Pendaftaran ditutup pada Senin, 15 Maret 2018.

Kamis, 20 Februari 2014

Bagaimana Seharusnya Mencantumkan Nama Ilmiah Organisme dalam Proposal, Skripsi, dan Karya Ilmiah Lainnya

Simple, Free Image and File Hosting at MediaFire Untuk menyelesaikan studi di fakultas pertanian, mahasiswa diwajibkan menyusun proposal penelitian dan skripsi. Sebelum itu, mahasiswa sudah dilatih menulis berbagai jenis karya ilmiah lainnya, antara lain tugas, laporan praktikum, dan laporan magang. Karya ilmiah dalam bidang pertanian pada umumnya berkaitan dengan berbagai jenis organisme, mulai dari tanaman sendiri sampai ke organisme pengganggu tumbuhan dan organisme musuh alami atau agen pengendali hayati. Tentu saja, kaitan dengan organisme berbeda-beda bergantung pada program studi mahasiswa. Karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program studi agroteknologi lebih berkaitan dengan organisme dibandingkan dengan karya ilmiah mahasiswa program studi agribisnis. Dalam program studi agroteknologi, karya ilmiah mahasiswa minat perlindungan tanaman lebih berkaitan dengan organisme dibandingkan dengan karya ilmiah mahasiswa minat lainnya. Oleh karena itu, relevansi pencantuman nama ilmiah dalam karya ilmiah mahasiswa program studi yang berbeda seharusnya juga tidak sama.


Karya ilmiah mahasiswa minat perlindungan tanaman berkaitan dengan organisme pengganggu tumbuhan pada jenis tanaman tertentu atau bahkan berkaitan dengan organisme musuh alami atau agen pengendali hayati organisme pengganggu tumbuhan pada jenis tanaman tertentu. Dalam hal ini, karya ilmiah mahasiswa perlindungan tanaman dapat berkaitan dengan nama ilmiah setidak-tidaknya dua atau tiga kategori organisme. Berbeda halnya dengan kareya ilmiah mahasiswa minat lainnya dalam program studi agroteknologi, yang hanya berkaitan dengan nama ilmiah tanaman. Apalagi karya ilmiah mahasiswa program studi agribisnis, yang kaitannya dengan nama ilmiah sebenarnya tidak langsung, melainkan sekedar sebagai keterangan terhadap produk pertanian. Nama ilmiah dalam karya ilmiah mahasiswa program studi agribisnis bukan berkaitan langsung dengan obyek penelitian. Karena itu, sangat mengherankan bila judul karya ilmiah mahasiswa program studi agribisnis disertai dengan nama ilmiah organisme. Dan lebih mengherankan lagi, dosen pembimbingnya membiarkan hal itu begitu saja, mungkin karena berpendapat bahwa bila disertai dengan nama ilmiah maka karya ilmiah dengan sendirinya menjadi lebih berbobot.

Untuk memulai, sebaiknya perlu terlebih dahulu dibaca uraian mengenai binomial nomenclature (tatanama binomial) yang mengatur bahwa nama ilmiah spesies mahluk hidup terdiri atas dua kata, mirip dengan nama orang yang pada umumnya terdiri atas nama pemberian (given name) dan nama keluarga (family name). Bila pada nama orang nama keluarga dituliskan setelah nama pemberian, pada nama ilmiah nama keluarga dituliskan di depan nama pemberian. Kedua nama tersebut merupakan nama spesies, yang terdiri atas nama genus dan diikuti dengan nama epitet (nama pemberian untuk spesies yang bersangkutan). Misalnya, dalam nama spesies eukaliptus Eucalyptus urophhylla, Eucalyptus merupakan nama genus dan urophylla merupakan nama epitet, keduanya merupakan nama binomial untuk spesies eukaliptus.

Nama ilmiah mahluk hidup diatur melalui ketentuan internasional yang disebut kode (code) yang berbeda untuk kategori mahluk hidup tertentu sebagai berikut:
·          Tatanama algae, jamur, dan tumbuhan diatur melalui International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN), dengan aturan yang berlaku sejak 2012 adalah Kode Melbourne. Sebelum itu, tatanaman algae, jamur, dan tumbuhan diatur melalui International Code of Botanical Nomenclature (ICBN), dengan aturan terakhirnya adalah Kode Wina (Vienna Code). Untuk peringkat taksonomik di bawah spesies bagi tumbuhan budidaya (tanaman), digunakan aturan tersendiri yang disebut International Code of Nomenclature for Cultivated Plants, dengan aturan terakhirnya adalah Versi 8 (2009).
·          Tatanama binatang diatur melalui International Code of Zoological Nomenclature (ICZN), dengan aturan yang berlaku sejak 31 Desember 1999 dan amandemennya yang berlaku sejak 1 Januari 2012 adalah ICZN Edisi IV.
·          Tatanama bakteri (dan termasuk arkaea) diatur melalui International Code of Nomenclature of Bacteria (ICNB), dengan versi termutakhir adalah ICNB Versi 1990.
·          Tatanama virus diatur oleh International Committee on Taxonomy of Virus (ICTV), dengan versiti terakhir adalah ICTV Versi 2012.

Tatanama yang berbeda tersebut memungkinkan terjadinya perbedaan ketentuan mengenai nama ilmiah antar golongan yang berbeda. Misalnya, dalam tatanama binatang dikenal nama trinomial untuk peringkat taksonomik di bawah spesies, sedangkan dalam tatanama tumbuhan nama trinomial tidak diperbolehkan. Penulisan nama ilmiah binatang secara lengkap harus diikuti dengan nama author dan tahun, sedangkan penulisan nama ilmiah tumbuhan secara lengkap cukup diikuti dengan nama author (tanpa tahun). Nama author adalah nama orang yang memberikan nama ilmiah, bukan nama penemu, suatu peringkat taksonomik tertentu yang namanya diterima sebagai nama berlaku (tumbuhan dan kerabatnya) atau nama valid (binatang). Nama ilmiah berlaku yang lengkap untuk ampupu adalah Eucalyptus urophylla S.T.Blake, S.T. Blake merupakan nama author. Nama ilmiah valid untuk belalang kembara adalah Locusta migratoria (Linnaeus 1758) dan untuk belalang kembara timur jauh adalah Locusta migratoria manilensis (Meyen, 1835)(nama trinomial untuk sub-spesies belalang kembara yang terdapat di Asia Timur dan Asia Tenggara). Namun meskipun terdapat sejumlah perbedaan, terdapat satu persamaan mendasar bahwa yang diberikan nama ilmiah adalah mahluk hidup, bukan bagian-bagian mahluk hidup atau mahluk hidup yang digunakan sebagai keterangan. Karena itu, terhadap gabah tidak boleh diberikan nama ilmiah Oryza sativa, demikian juga terhadap produksi jagung, emping jagung, dan rantai pemasaran jagung, tidak boleh diberikan nama ilmiah Zea mays. Gabah merupakan bagian dari tanaman padi, sedangkan jagung pada istilah produksi jagung, emping jagung, dan rantai pemasaran jagung merupakan keterangan.

Sejak 2011 telah ada upaya oleh International Committee for Bionomenclature untuk menyatukan aturan tatanama mahluk hidup ke dalam satu kode, disebut BioCode, tetapi sampai sekarang belum disepakati sehingga hanya merupakan draft. Selain itu, seiring dengan perkembangan dalam bidang taksonomi ke arah taksonomi filogenetik berdasarkan atas asal-usul genetik (bukan hanya morfologis), juga telah ada kode mengenai tatanama filogenetik, disebut PhyloCode, yang kini mulai diadopsi dalam taksonomi tumbuhan berbunga. Meskipun belum digunakan secara formal, keduanya perlu dipelajari untuk mengantisipasi perkembangan tatanama mahluk hidup ke depan.

Tatanama mahluk hidup berkaitan sangat erat dengan klasifikasi mahluk hidup dan klasifikasi mahluk hidup pada gilirannya berkaitan lebih erat lagi dengan taksonomi mahluk hidup. Klasifikasi mahluk hidup berkaitan dengan penggolongan mahluk hidup ke dalam peringkat taksonomik, sedangkan taksonomi mahluk hidup merupakan ilmu yang mempelajari pemeringkatan taksonomik sekaligus klasifikasi mahluk hidup. Klasifikasi dan taksonomi modern dimulai dengan sistem Linnaeus yang didasarkan terutama pada ciri-ciri fenetik (ciri-ciri yang tampak secara morfologis), tetapi kini mulai berkembang sistem filogenetik yang didasarkan pada ciri-ciri filogenetik (hubungan kekerabatan berdasarkan DNA) dan sistem evolusioner yang didasarkan pada hubungan filogenetik dan evolusi. Upaya pengembangan klasifikasi dan taksonomi filogenetik dan evoluisoner misalnya telah dilakukan melalui The Tree of Life web project. Klasifikasi tumbuhan berbunga kini telah dilakukan dengan berdasarkan atas sistem filogenetik, dikenal sebagai Angiosperm Phylogeny Group, dengan versi termutakhir adalah APG III (versi 13). Sistem klasifikasi ini terutama sangat perlu dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang botani, pertanian, dan kehutanan.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa nama ilmiah berkalitan dengan klasifikasi dan klasifikasi berkaitan dengan taksonomi. Sebagai ilmu, taksonomi selalu berkembang. Perkembangan ini menimbulkan konsekuensi bahwa nama ilmiah dan klasifikasi mahluk hidup akan selalu berubah. Hal ini penting untuk dipahami oleh siapa saja yang sering menggunakan nama ilmiah. Untuk mengetahui nama ilmiah yang berlaku atau valid maka perlu dilakukan pemeriksaan. Dahulu pemeriksaan harus dilakukan dengan menggunakan jurnal-jurnal ilmiah dalam bidang taksonomi sehingga sangat menyulitkan. Kini pemeriksaan nama ilmiah dapat dilakukan dengan menggunakan banyak situs pemeriksaan nama ilmiah, di antaranya sebagai berikut:
·          Pemeriksaan nama ilmiah berbagai kategori mahluk hidup: GBIF Data Portal dan Catalogue of Life
·          Pemeriksaan nama ilmiah tumbuhan: The Plant List
·          Pemeriksaan nama ilmiah jamur: Species Fungorum
·          Pemeriksaan nama ilmiah algae: AlgaeBase
·          Pemeriksaan nama ilmiah bakteri: LPSN
·          Pemeriksaan nama ilmiah virus: ICTV
Mengingat pentingnya pemeriksaan nama ilmiah ini bagi mahasiswa maka saya sudah menyediakan layanan pemeriksaan nama ilmiah ini pada blog matakuliah Dasar-dasar Perlindungan Tanaman, blog matakuliah Ilmu Gulma, dan blog bimbingan skripsi Sumberdaya Skripsi. Tapi rupanya belum banyak mahasiswa, apalagi dosen, yang memanfaatkan layanan jasa tersebut.

Untuk melakukan klasifikasi, perlu terlebih dahulu dilakukan identifikasi mahluk hidup. Pada awalnya, identifikasi dilakukan dengan menggunakan ciri-ciri morfologis yang digunakan sebagai dasar untuk membuat kunci identifikasi. Terdapat berbagai tipe kunci identifikasi, di antaranya adalah kunci dikhotomi (dichotomous key atau juga disebut single-access key) dengan berbagai variasinya. Dahulu kunci identifikasi tersedia hanya dalam bentuk tercetak, kini tersedia dalam bentuk program aplikasi, yang juga disebut kunci identifikasi elektronik. Sebagai contoh adalah berbagai kunci elektronik, di antaranya delta-inkey, yang didasarkan pada format pencatatan data taksonomi Delta yang sekaligus dapat digunakan untuk membuat deskripsi secara otomatis, kini dikembangkan menjadi FreeDelta. Contoh lainnya adalah kunci lucid versi komputer dan versi ponsel pintar yang diproduksi oleh Lucidcentral untuk berbagai kategori mahluk hidup. Selain itu juga terdapat kunci identifikasi dengan basis pemrograman lain, di antaranya:
·          Electronic Field Guide (EFG): kunci identifikasi dalam jaringan (online) berbasis Java
·          Interactive Biodiversity Identification Software (IBIS-ID): kunci identifikasi berdiri sendiri yang dapat dimasukkan (embed) ke dalam situs web, blog, atau wiki.
·          Open Identification API: kunci identifikasi berbasis Java yang tersedia dalam format
·          Rachis: program aplikasi lintas-platform berbasis C++ untuk mengorganisasikan, mengklasifikasikan, dan mengidentifikasi mahluk hidup.
·          SLIKS: program aplikasi Javascript yang dijalankan melalui program aplikasi peramban (browser) untuk menggunakan kunci identifikasi interaktif.
·          X:ID: kunci identifikasi dan diagnostik berbasis PHP dalam format XML.
Untuk mencoba, silahkan kunjungi kunci lucid gratis untuk identifikasi jeruk versi dalam jaringan atau unduh versi ponsel pintar Android. Penggunaan teknologi informasi bisa membuat urusan nama ilmiah dan identifikasi menjadi lebih menarik dan tidak ketinggalan zaman.

Mempelajari nama ilmiah sebenarnya tidak begitu berbeda dengan mempelajari cabang-cabang biologi lainnya. Sampai pada batas tertentu memang diperlukan untuk menghapal, tetapi sebagaimana dalam mempelajari bidang-bidang ilmu lain, menghapal sebenarnya bukanlah tujuan, melainkan hanya cara. Tujuan utama mempelajari sesuatu tentu saja lebih daripada sekedar menghapal, melainkan untuk memahami, sehingga dengan demikian dapat dijawab pertanyaan mengapa. Mempelajari nama ilmiah akan menjadi lebih mudah bila dimulai dengan keinginan untuk memahami. Lalu perlukah nama ilmiah mahluk hidup dihapal? Kalau memang perlu, untuk apa harus diciptakan komputer dan hard disk untuk membuat dan menyimpan basis data nama ilmiah? RAM (otak manusia) terlalu berharga untuk menyimpan (menghapal) sesuatu yang dapat disimpan dalam hard disk. Persoalannya kemudian adalah bagaimana memadukan berbagai bidang ilmu. Seorang pakar taksonomi yang sama sekali tidak mengerti komputer (karena berpendidikan linier) mungkin merasa lebih mudah menghapalkan nama ilmiah daripada belajar menggunakan komputer dan Internet.

Tantangannya kemudian adalah andaikan saja pengajaran nama ilmiah dengan pendekatan seperti ini mulai dilakukan pada matakuliah Biologi dan matakuliah Botani Umum. Andaikan saja cukup banyak dosen yang selain mengajar juga masih membuka diri sendiri untuk belajar. Bukankah dengan tersedianya Internet, untuk belajar diperlukan cukup hanya kemauan dan kesediaan menyisihkan sebagian biaya koneksi Facebook? Daripada mengunggah status setiap jam, cukup dengan mengunggah hanya sekali dalam sehari dan sisanya digunakan untuk mengakses situs untuk belajar sesuatu. Hanya saja kendalanya kemudian tentu saja adalah kenyataan bahwa menjadi pintar dengan belajar sendiri tidak memperoleh gelar, sedangkan belajar dengan mengikuti jenjang S2 dan S3 memperoleh gelar yang dapat dicantumkan pada KTP, SIM, buku bank, dsb. Sepanjang sistem lebih mengedepankan gelar daripada kemampuan seseorang, selama itu belajar akan dimaknai sebagai sekedar untuk memperoleh gelar daripada untuk mencerdaskan diri.


12 komentar:

  1. untuk nama ilmiah itu setiap tahun berubah- ubah oleh karena itu blog ini sangat bermanfaat buat saya pada saat mencari tahu nama ilmiah, ternyata dibuku beda dengan di GBIF Data Portal karena mungkin klasifikasi pada buku terbitan tahun 1982 berbeda dengan GBIF Data Portal mungkin saja sudah mengalami perubahan dalam hal taksonomi .

    BalasHapus
  2. untuk nama ilmiah itu setiap tahun berubah- ubah oleh karena itu blog ini sangat bermanfaat buat saya pada saat mencari tahu nama ilmiah, ternyata dibuku beda dengan di GBIF Data Portal karena mungkin klasifikasi pada buku terbitan tahun 1982 berbeda dengan GBIF Data Portal mungkin saja sudah mengalami perubahan dalam hal taksonomi .

    BalasHapus
  3. 1.setelah saya membaca bacaan singkat diatas saya jadi dapat memahami kalo mencari tau nama ilmiah,ternyata di buku beda dengan di GBIF dan portal karena mungkin klasifikasi pada buku terbitan tahun 1982 berbeda dengan GBIF Data Portal mungkin saja sudah mengalami perubahan dalam hal taksonomi
    2. yang saya belum mengerti kenapa nama ilmiah di buku beda dengan di GBIF data portal

    BalasHapus
  4. Sudah saya bacakan tulisan diatas, cara untuk memasukan nama ilmiah tersebut kedalam susunan skripsi,dan ingin saya tanyakan mengapa nama ilmiah itu ada yang berbeda di GBIF

    BalasHapus
  5. Saya dapat pahami :
    Bagaimana cara menulis nama ilmiah yang benar pada susunan skripsi

    Saya ingin tanyakan :
    Apakah nama ilmiah pada tumbuhan akan slalu sama dari masa ke masa ataukah akan ada perubahan nama ilmiah stiap masanya?

    BalasHapus
  6. saya dapat pahami dari tulisan bapak tentang nama ilmiah
    yang saya ingin tanyakan:
    1.apakah nama ilmiah setiap jamur itu sama?

    BalasHapus
  7. Dari tulisan diatas telah saya bacakan, dan saya mau tanya mengapa nama ilmiah itu berbeda beda atau apakah karna penemuannya yang membedakan nama ilmiah tersebut??

    BalasHapus
  8. Saya sudah membacakan materinya,,dan saya ingin bertanya

    Apakah nama ilmiah yang penemuannya dari tahun 1982 berbeda dengan tahun yang sekarang ini??

    BalasHapus
  9. Sudah saya bacakan tulisan diatas,,dan saya sudah agak memahaminya sedikit

    BalasHapus
  10. Dari materi ini saya dapat memahami sedikit nama nama ilmiah pada OPT

    BalasHapus
  11. saya ingin bertaya undang-undang tentan perlindugan tanaman khususnya pada opt

    BalasHapus

Untuk mengomentari tayangan ini, silahkan tulis dan poskan di bawah ini ...

Daftar Istilah

A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y,
Z, daftar istilah entomologi dari EartLife