Halaman Aktif

Selamat Datang

Belajar Perlindungan Tanaman adalah blog baru yang sedang dibuat untuk mendukung mahasiswa Faperta Undana mempelajari mata kuliah Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Pada saat ini blog belum selesai dikerjakan sehingga hanya menyedaiakan fitur layanan secara terbatas. Silahkan kunjungi blog lama untuk memperoleh informasi mengenai fitur layanan yang akan diberikan melalui blog baru ini. Bila Anda adalah mahasiswa peserta mata kuliah Dasar-dasar Perlindungan Tanaman semester genap Tahun Ajaran 2018/2019, Anda wajib membaca materi sebelum mengikuti kuliah dan menyampaikan komentar dan/atau pertanyaan singkat di dalam kotak komentar di bawah setiap tulisan. Baca tanggal tenggat penyampaian komentar di bagian bawah setiap materi kuliah.

Pemberitahuan

Diberitahukan bahwa pada Jumat, 8 Maret 2019, dosen Ir. I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D. tidak dapat hadir memberikan kuliah tatap muka karena bertugas ke luar kota. Kuliah dengan materi 2.3. Berbagai Jenis OPT Golongan Gulma, Tumbuhan Parasitik, dan Tumbuhan Invasif akan diberikan oleh dosen Ibu Ethin Namas, SP, MSi. Mahasiswa diminta mengikuti perkuliahan dan menyampaikan komentar dan/atau pertanyaan mengenai materi kuliah selambat-lambatnya pada Jumat, 15 Maret 2019. Mahasiswa yang tidak menyampaikan komentar dan/atau pertanyaan melewakti batas waktu tersebut tidak akan memperoleh nilai softskill.

Kamis, 02 Februari 2012

Katanya PIP Lahan Kering, Tapi Apakah Ada Hasil Penelitian Perlindungan Tanaman Mengenai Perladangan?

Print Friendly and PDF
Suatu ketika, seorang pakar ekologi lahan kering bertamu ke fakultas tempat saya bekerja untuk memperoleh hasil penelitian terbaru mengenai perladangan (tebas bakar). Menurut pakar ini, karena universitas tempat saya bekerja mempunyai pola ilmiah pokok (PIP) lahan kering, seharusnya sudah banyak dilakukan penelitian mengenai perladangan. Sebelum menemani dia untuk bertamu ke fakultas, saya sebenarnya sudah mewanti-wanti dia bahwa belum banyak dilakukan penelitian mengenai tebas bakar. Saya sudah katakan bahwa PIP itu hanya indah di kata-kata, tetapi tidak berwujud dalam realitas. Tapi dia tidak percaya dan mendesak saya terus untuk mengantarkan dia bertamu ke fakultas. Maka, bertemulah dia dengan para pimpinan dan saya merasa lebih baik menunggu saja di luar. Cukup lama juga saya menunggu. Mungkin dia harus membolak-balik timbunan skripsi dan laporan penelitian dosen untuk mencari hasil penelitian mengenai perladangan. Dari roman mukanya, dari jauh saya sudah dapat menebak bahwa dia tidak menemukan apa yang dia cari. Ketika sudah di dalam mobil dia hanya berkata, "Saya heran!". Saya pun tidak mengomentari apa-apa lagi, sebab saya sendiri juga heran.


Kejadian ini sebenarnya sudah berlangsung sekian tahun lalu. Sekarang kurikulum sudah sekian kali berganti. Bahkan program studi sudah dilebur dan nama jurusan berubah menjadi agroteknologi. Saya sendiri kurang tahu apa alasannya sehingga nama budidaya pertanian (dan disingkat buditan) yang sudah begitu indah harus diganti dengan nama yang tidak jelas sebenarnya bermakna apa. Anyway, yang menjadi renungan saya adalah begini. Ketika jurusan masih bernama budidaya pertanian saja perladangan sudah tidak diperhatikan, apalagi setelah berganti nama menjadi ahroteknologi. Karena dipandang sebagai sistem yang tradisional, perladangan tentu saja merupakan sistem pertanian yang miskin teknologi. Lalu saya pun merenung lebih jauh, begini sudah kalau kita belajar ilmu dengan melupakan filsafat, terlalu masuk ke dalam jurang spesialisasi sehingga kehilangan wawasan. Kita memandang pertanian sebagai teknologi dan melupakan bahwa yang melakoni pertanian di negeri adalah lebih banyak manusia berpendidikan ala kadarnya daripada orang berpendidikan tinggi yang melek teknologi. Kita kurang memperhatikan bahwa anak-anak petani lebih banyak yang lebih suka menjadi tukang ojek daripada menggantikan ayahnya menjadi petani.

Tapi seharusnya saya juga tidak boleh ngelantur terlalu jauh. Mengapa? Karena tidak akan ada yang mengerti dan mau mengerti. Kalau pun ada yang mau mengerti, mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena sama halnya seperti saya, mereka bukan ada dalam pusaran arus utama. Tapi saya juga tidak mau dikatakan hanya bisa mengkritik tanpa memberi solusi. Hanya saja, kalau dahulu saya merasa kalah kalau solusi yang saya tawarkan tidak ada yang menggubris. Sekarang saya justeru sebaliknya, sebab seperti halnya di pengadilan, kehebatan seorang jaksa, hakim, atau penasihat hukum bukanlah dilihat dari kemampuannya memenangkan perkara, melainkan dari kejujurannya menegakkan keadilan. Karena itu, kalau pun solusi yang saya tawarkan tidak ada yang menggubris, bukan berarti saya kalah. Saya justeru akan menang nanti, jika yang tidak menggubris pada akhirnya tidak mampu berbuat apa-apa.

Begini saja singkatnya, bagaimana bila mulai sekarang kita memberikan sedikit saja perhatian terhadap perladangan? Begini alasannya. Di dunia internasional, paradigma positivisme dan pascapositivisme yang mendewakan obyektivitas dan interobyektivitas ilmu tidak lagi menjadi paradigma arus utama. Kini paradigma tandingannya, interpretivisme dan konstruktivisme yang memberikan ruang kepada subyektivitas dan intersubyektivitas ilmu mulai mendapat banyak pengikut. Lalu ada pula paradigma jalan tengah transformatif-emansipatori, yang memberikan ruang dialog di antara keduanya. Bahwa mungkin benar kalau perladangan dapat menimbulkan erosi dan merusak hutan, tapi apakah perladangan hanya itu? Bukankah perladangan merupakan tumpuan hidup sekian banyak manusia yang selama ini terpinggirkan dari arus utama pembangunan? Kalau mereka terus saja diabaikan karena kita terlalu silau dengan ilmu yang harus obyektif, lantas bagaimana ilmu dapat menolong orang yang terabaikan ini? Ilmu yang obyektif mengajarkan kepada kita untuk mengambil kesimpulan berdasarkan nilai rata-rata, padahal mereka ini bukan hanya di bawah nilai rata-rata tetapi justeru merupakan pencilan.

Lagi-lagi saya tergelincir jauh. Kongkritnya begini, bagaimana kita yang di jurusan agroteknologi dan di jurusan agribisnis bersama-sama memberikan perhatian terhadap perladangan? Teknologi untuk perladangan, bisnis untuk perladangan? Ketika hal ini saya tanyakan kepada teman saya lainnya yang kebetulan seorang pakar antropologi terkemuka manca negara, dia malah balik bertanya maksudnya apa? Saya pun kemudian harus bersusah payah menjelaskan sebelum akhirnya dia membalas email saya dengan ha ha ha it is good, but swidden is about struggle for existence and none about business and technology. Membacanya membuat saya harus merenung kembali, apakah saya terlalu naif? Tapi daripada terus pusing dengan hal-hal konseptual begini, saya merasa harus mulai lebih pragmatik saja. Kawan-kawan dosen yang bergabung dalam minat perlindungan tanaman, sebaiknya mari kita meneliti bagaimana dinamika hama, penyakit, dan gulma di perladangan? Sejauh mana panas api ketika dilakukan pembakaran ikut menentukan dinamika tersebut? Pendekatan apa yang sebenarnya cocok sebagai dasar menyusun perlindungan tanaman perladangan? Dengan meneliti secara lintas bidang ilmu, mudah-mudahan tidak lagi ada yang mengklaim bahwa perladangan di kawasan beriklim monsun dapat menyebabkan terjadinya gurun lebih dari sekedar mendorong terjadinya ledakan populasi belalang kembara.



2 komentar:

Untuk mengomentari tayangan ini, silahkan tulis dan poskan di bawah ini ...

Daftar Istilah

A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y,
Z, daftar istilah entomologi dari EartLife